PULANG PISAU – Global InvestigasiNews, Kisah perjuangan seorang ibu tangguh bernama Mama Amat menyentuh hati warga Pulang Pisau. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia tetap berjuang membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya meski harus menahan lapar demi kebutuhan keluarga.
Nana (Mama Amat)merupakan seorang ibu tanpa suami yang tinggal di Jalan Rey 1, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah. Dalam kesehariannya, ia bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yang terdiri dari lima orang dalam satu rumah.
Kondisi ekonomi yang sulit membuat Nana (Mama Amat) harus menghadapi berbagai tantangan. Ia memiliki seorang kakak perempuan penyandang tunawicara dan seorang kakak laki-laki yang sering sakit-sakitan. Di sisi lain, ia juga harus memikirkan masa depan anak-anaknya.
“Anak saya tidak ikut acara perpisahan sekolah dan tidak bisa liburan karena tidak ada biaya,” ungkap Mama Amat dengan penuh haru.
Meski hidup dalam keterbatasan, ia tetap bersyukur karena salah satu anaknya telah lulus dari SMP Negeri 1 Kahayan Hilir pada tahun 2026 dan berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang SMK. Sementara seorang anak lainnya terpaksa putus sekolah akibat keterbatasan biaya dan kini telah berusia 18 tahun.
Pada Kamis (4/6/2026), Nana(Mama Amat) terlihat berjualan sejak pagi hari dengan harapan memperoleh uang untuk membeli beras karena persediaan beras di rumah telah habis. Rezeki pun datang ketika dagangannya dibeli seluruhnya oleh warga yang mengetahui kondisinya.
Setelah dagangannya habis terjual, Mama Amat meminta izin untuk pulang karena belum sempat memasak bagi keluarganya.
Selain kebutuhan pangan, keluarga ini juga masih menghadapi keterbatasan akses listrik. Hingga saat ini rumah yang mereka tempati belum mendapatkan sambungan listrik, sehingga aktivitas pada malam hari sangat terbatas. Untuk mobilitas sehari-hari, keluarga tersebut hanya mengandalkan sebuah sepeda ontel.
Kondisi Nana(Mama Amat) mendapat perhatian dari Komunitas Akhwat Hidayatullah Pulang Pisau yang selama ini aktif menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Ainun, salah satu relawan komunitas tersebut, mengatakan bahwa kegiatan berbagi kepada warga kurang mampu telah rutin dilaksanakan setiap hari Jumat selama lima tahun terakhir.
“Alhamdulillah, kegiatan berbagi setiap Jumat sudah berjalan selama lima tahun. Kami berupaya membantu masyarakat yang benar-benar membutuhkan,” ujar Ainun.
Menurutnya, pihak komunitas juga telah berupaya mengajukan program pemasangan listrik gratis bagi rumah Mama Amat. Namun, pengajuan tersebut belum dapat disetujui karena lokasi rumah dinilai terlalu jauh dari jaringan yang tersedia.
“Kami juga sudah mengajukan listrik gratis, tetapi ternyata jaraknya dari jalan cukup jauh sehingga belum bisa di-ACC. Kami sedih melihat kondisi rumah yang masih tanpa penerangan listrik,” kata Ainun.
Kisah Nana(Mama Amat) menjadi gambaran nyata tentang perjuangan seorang ibu dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Di tengah segala keterbatasan, ia tetap berusaha memberikan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Harapan akan hadirnya bantuan dan perhatian dari berbagai pihak pun masih terbuka, terutama untuk mendukung pendidikan anak-anaknya serta pemenuhan kebutuhan dasar keluarga, termasuk akses listrik yang layak.(Romi)











