Cilegon, Global Investigasi News.com – Di tengah upaya pemulihan pasca-peristiwa bom molotov yang menimpa sebuah keluarga di lingkungan Kavling Blok C, Kelurahan Masigit, Kecamatan Jombang, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Cilegon menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada keluarga korban, Jumat (5/6/2026).
Penyaluran bantuan tersebut turut didampingi unsur pemerintah setempat, yakni Sekretaris Kecamatan (Sekmat) Jombang dan Sekretaris Kelurahan (Seklur) Masigit. Kehadiran berbagai pihak dalam kegiatan tersebut menjadi simbol kepedulian sosial sekaligus bentuk dukungan moral bagi keluarga yang tengah menghadapi masa sulit.
Berdasarkan pantauan di lokasi, suasana berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Perwakilan Baznas, aparatur pemerintah, serta keluarga korban terlihat berbincang secara akrab mengenai kondisi terkini pasca-kejadian yang sempat menyita perhatian masyarakat.
Bantuan yang disalurkan berupa kebutuhan pokok, antara lain beras, mi instan, gula, dan sejumlah bahan pangan lainnya yang diharapkan dapat membantu meringankan beban keluarga korban.
Langkah Baznas Cilegon tersebut menunjukkan bahwa penanganan dampak sebuah peristiwa tidak hanya berbicara mengenai proses hukum dan keamanan, tetapi juga menyangkut aspek kemanusiaan. Kehadiran negara melalui pemerintah daerah dan lembaga sosial menjadi penting untuk memastikan bahwa korban tidak menghadapi kesulitan seorang diri.
Keluarga korban menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian yang diberikan. Menurut mereka, bantuan tersebut bukan semata bernilai material, melainkan juga menjadi penyemangat di tengah situasi yang masih menyisakan trauma dan ketidakpastian.
Di tengah berbagai dinamika sosial yang terjadi, solidaritas dan kepedulian terhadap sesama menjadi nilai yang patut dijaga. Kehadiran Baznas bersama unsur pemerintah Kecamatan Jombang dan Kelurahan Masigit menjadi pengingat bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Peristiwa ini sekaligus menegaskan bahwa semangat gotong royong tidak boleh berhenti pada ungkapan simpati, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang mampu menghadirkan harapan bagi mereka yang sedang tertimpa musibah.
(Rohim)











