JAKARTA – Persaingan antar daerah dalam meningkatkan daya saing kian ketat. Di tengah kompetisi itu, Kabupaten Bandung muncul sebagai salah satu daerah dengan performa di atas rata-rata nasional dalam Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025.
Dengan skor 3,93 poin, Kabupaten Bandung melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 3,50 poin. Angka ini sekaligus naik dari capaian tahun sebelumnya sebesar 3,86 poin, menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten dan terukur.
Atas capaian tersebut, Bupati Bandung,
Dadang Supriatna, menerima Sertifikat Apresiasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional dalam ajang Rilis IDSD 2025 di Jakarta. Penghargaan diserahkan oleh Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya.
Di Atas Nasional, di Tengah Kompetisi Ketat.
Secara nasional, tidak semua daerah mampu menembus skor di atas rata-rata IDSD. Banyak pemerintah daerah masih berkutat pada persoalan fundamental seperti kualitas institusi, infrastruktur dasar, adopsi teknologi, hingga ekosistem inovasi.
IDSD sendiri mengukur 12 pilar utama yang menjadi fondasi daya saing, mulai dari stabilitas ekonomi makro, kesehatan dan pendidikan, efisiensi pasar tenaga kerja, hingga kapasitas inovasi.
Artinya, capaian 3,93 bukan sekadar angka administratif, melainkan indikator bahwa fondasi pembangunan daerah relatif lebih kokoh dibanding rata-rata nasional.
Dalam konteks komparatif, selisih 0,43 poin di atas rata-rata nasional menunjukkan jarak performa yang signifikan. Di tengah banyak daerah yang pertumbuhan skornya stagnan atau fluktuatif, Kabupaten Bandung justru menunjukkan kenaikan bertahap.
Inovasi sebagai Strategi, Bukan Slogan
Bupati Dadang Supriatna menegaskan bahwa peningkatan IDSD merupakan hasil dari implementasi visi Bandung Lebih Bedas yang diterjemahkan ke dalam 57 rencana aksi pembangunan.
“Skor IDSD ini menjadi landasan data yang kuat untuk merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih terarah, terukur, dan berbasis bukti,” ujarnya.
Pendekatan berbasis data inilah yang membedakan daerah progresif dengan daerah yang masih mengandalkan pola konvensional. Ketika indeks dijadikan instrumen evaluasi kebijakan, maka pembangunan bergerak lebih presisi.
Catatan untuk Daerah Lain.
Dalam arahannya, Wamendagri Bima Arya menekankan bahwa inovasi harus menjadi bagian integral dari sistem pemerintahan, bukan sekadar program tambahan.
“Inovasi harus fokus pada solusi nyata, memberi nilai tambah yang jelas, dan dampaknya bisa dibuktikan dengan data,” tegasnya.
Pernyataan ini menjadi pesan penting bagi pemerintah daerah lain yang masih menjadikan inovasi sebagai proyek jangka pendek atau bersifat seremonial.
Tanpa integrasi ke dalam tata kelola dan sistem layanan publik, inovasi sulit berdampak signifikan pada indeks daya saing.
Menuju Indonesia Emas 2045
Capaian Kabupaten Bandung memperlihatkan bahwa transformasi berbasis inovasi dapat mendorong posisi daerah dalam peta nasional. Di tengah agenda besar menuju Indonesia Emas 2045, daya saing daerah menjadi faktor kunci dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Jika tren positif ini konsisten, Kabupaten Bandung berpeluang memperkokoh posisinya sebagai salah satu daerah dengan ekosistem pembangunan yang adaptif dan berkelanjutan.
Penghargaan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional bukan sekadar simbol, tetapi penegasan bahwa di era kompetisi global, inovasi adalah instrumen utama untuk bertahan sekaligus unggul.











