KENDAL – GLOBALNESTIGASI GINEWS TV Krisis regenerasi petani di Indonesia kian menjadi perhatian serius. Mayoritas petani saat ini didominasi usia di atas 50 tahun, sementara generasi muda dinilai semakin sedikit yang tertarik terjun ke sektor pertanian. Kondisi itu mendorong Santri Tani Milenial Jayabinangun (STMJ) Kabupaten Kendal bergerak menyiapkan regenerasi petani melalui pendidikan dan pelatihan bagi kalangan muda.
Ketua STMJ Kendal, Muhammad Sayidil Mursalim, mengatakan sektor pertanian saat ini menghadapi ancaman serius jika regenerasi tidak segera dilakukan. Menurutnya, minimnya petani muda dapat berdampak pada keberlanjutan produksi pangan nasional di masa mendatang.
“Petani saat ini rata-rata berumur 50 tahun ke atas. Yang usia 30 sampai 40 tahun nyaris tidak ada. Ini menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan sektor pertanian kita,” ujar Sayidil, Sabtu (2/5/2026).
Ia menilai, masih banyak anak muda yang memiliki stigma negatif terhadap dunia pertanian. Bertani kerap dianggap pekerjaan yang identik dengan kotor, kumuh, dan tidak memberikan hasil yang menjanjikan secara ekonomi.
“Banyak yang berpikir bertani itu kotor, kumuh, dan hasilnya tidak menghasilkan. Padahal bukan begitu. Asalkan manajemennya ditata dengan baik, hasil bertani itu sangat menjanjikan,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, STMJ akan menggelar Pendidikan dan Pelatihan Training of Trainer (TOT) pada 20-21 Mei 2026. Kegiatan ini akan memberikan pembekalan kepada pemuda santri dan anggota Karang Taruna di Kabupaten Kendal terkait pendidikan pertanian, perikanan, serta konsep pertanian terpadu yang diarahkan untuk mendukung swasembada pangan, ketahanan pangan, dan hilirisasi berkelanjutan.
Setelah pelatihan, para peserta akan diterjunkan langsung ke lapangan untuk mempraktikkan ilmu yang diperoleh di berbagai sektor, mulai dari peternakan, perkebunan, hortikultura hingga bidang pertanian lainnya. Dalam pelaksanaannya, peserta akan mendapat pendampingan dari petugas penyuluh lapangan (PPL), Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Perikanan dan Kelautan Kendal, serta Kementerian Pertanian RI.
Para peserta
Kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari Ketua Karang Taruna Kabupaten Kendal, Nattaya Kenenza. Perempuan yang akrab disapa Mbak Naya itu menilai pertanian harus mulai dilihat sebagai peluang besar bagi generasi muda untuk membangun kemandirian ekonomi sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah.
Menurut Naya, keterlibatan pemuda dalam sektor pertanian menjadi langkah strategis di tengah semakin berkurangnya jumlah petani usia produktif. Ia menegaskan Karang Taruna siap menjadi bagian dari gerakan regenerasi petani di Kabupaten Kendal.
“Anak muda harus mulai berani melihat pertanian sebagai peluang, bukan sekadar pekerjaan tradisional. Kalau dikelola dengan inovasi dan semangat kolaborasi, pertanian bisa menjadi sektor yang menjanjikan,” kata Naya.
Naya menambahkan, sinergi antara organisasi kepemudaan, kelompok tani, pesantren, dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam mencetak petani muda yang tangguh dan mandiri. “Kami ingin gerakan ini menjadi langkah nyata melahirkan petani-petani muda yang tangguh, inovatif, dan mampu menjawab tantangan ketahanan pangan di masa depan. Kolaborasi harus terus dijaga agar hasilnya benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.









