Globalinvestigasi.com Lumajang.16 Mei 3026 Keberangkatan jemaah calon haji asal Kabupaten Lumajang tahun ini dimaknai lebih dari sekadar perjalanan ibadah ke Tanah Suci. Pemerintah Kabupaten Lumajang menempatkan momentum tersebut sebagai ikhtiar spiritual kolektif, dengan menitipkan doa bagi kesejahteraan daerah dan masyarakat.
Bupati Lumajang Indah Amperawati menyampaikan harapan agar para jemaah calon haji turut mendoakan Lumajang selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Doa tersebut dipandang sebagai bagian dari ikhtiar batin untuk menghadirkan keberkahan, keamanan, dan kemajuan daerah.
Hal itu disampaikan saat pelepasan jemaah calon haji Kloter 98 dan 99 di Pendopo Arya Wiraraja, Sabtu (16/5/2026). Sebanyak 603 jemaah diberangkatkan menuju Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, sebagai bagian dari total 1.258 jemaah calon haji asal Kabupaten Lumajang tahun ini.
Menurut Bupati, perjalanan haji bukan hanya ibadah individual, tetapi juga membawa amanah sosial. Para jemaah menjadi bagian dari masyarakat yang membawa harapan bersama untuk didoakan di tempat yang diyakini penuh keberkahan.
“Semoga seluruh jemaah diberikan kesehatan, kemudahan, dan kelancaran dalam melaksanakan ibadah haji, serta kembali ke tanah air menjadi haji yang mabrur,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah menitipkan doa agar Lumajang senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, dijauhkan dari berbagai kesulitan, serta diberikan kemajuan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.
Tradisi pelepasan yang diawali dengan mengelilingi Alun-Alun Lumajang juga menjadi simbol kuat hubungan spiritual antara masyarakat dan para jemaah. Momen tersebut tidak hanya menjadi seremoni, tetapi cerminan doa bersama dari warga kepada para tamu Allah.
Wakil Bupati Lumajang Yudha Adji Kusuma menilai keberangkatan jemaah haji selalu menjadi ruang kebersamaan yang menghubungkan nilai keagamaan dengan kehidupan sosial masyarakat. Doa yang dibawa para jemaah dinilai menjadi bagian dari harapan bersama untuk kebaikan daerah.
Bagi Pemerintah Kabupaten Lumajang, penyelenggaraan haji bukan sekadar layanan administrasi keberangkatan, tetapi juga bagian dari menjaga nilai spiritual yang tumbuh di tengah masyarakat. Dalam tradisi ini, ibadah dipandang memiliki dimensi sosial yang memperkuat solidaritas dan harapan kolektif.
Melalui doa para jemaah di Tanah Suci, Lumajang meneguhkan bahwa pembangunan tidak hanya dilakukan melalui program fisik dan kebijakan, tetapi juga melalui ikhtiar batin yang lahir dari keyakinan, kebersamaan, dan doa seluruh masyarakat. (Had)










