GIN Jatim Jember
02/05/2026
Surabaya- Peringatan Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi mendalam bagi seluruh elemen bangsa. Pendidikan bukan sekadar ruang belajar, melainkan tempat membentuk karakter, integritas, dan masa depan generasi kegenerasi
Semangat yang diwariskan Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan harus memanusiakan manusia—bukan justru melukai dan merendahkan martabat peserta berpendidikan.
Namun realitas hari ini masih jauh dari harapan. Kasus bullying di lingkungan pendidikan masih terus terjadi—baik secara fisik, verbal, maupun psikologis.
Ironisnya, praktik perundungan ini kerap dianggap sepele, ditutupi, bahkan dinormalisasi sebagai “bagian dari proses pendewasaan”.
Padahal, dampaknya nyata: trauma berkepanjangan, hilangnya rasa percaya diri, bahkan tidak sedikit yang berujung pada depresi yang berkelanjutan.
Heru Satryo, Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, menyampaikan peringatan keras terhadap kondisi tersebut. Ia menilai bahwa pembiaran terhadap bullying adalah bentuk kegagalan sistem pendidikan dalam menjalankan fungsi utamanya dan dunia pendidikan
“Jika sekolah tidak lagi menjadi tempat yang aman, maka kita sedang gagal melindungi masa depan bangsa.
Bullying bukan kenakalan biasa—ini adalah kekerasan yang harus dihentikan!” tegasnya.
Lebih jauh, Heru menyoroti bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan secara parsial.
Dibutuhkan keberanian dari pihak sekolah, ketegasan dari pemerintah, serta pengawasan dari masyarakat. Tidak boleh ada lagi upaya menutup-nutupi kasus demi menjaga citra institusi.
MAKI Jatim memberikan ultimatum tegas:
Setiap kasus bullying harus ditangani secara serius, transparan, dan berkeadilan.
Institusi pendidikan yang lalai wajib dievaluasi dan ditindak yang lebih serius.
Tidak boleh ada toleransi terhadap pelaku kekerasan dalam bentuk apapun dalam dunia pendidikan.
Menurutnya, pendidikan yang bersih tidak hanya bebas dari korupsi, tetapi juga bebas dari kekerasan dan intimidasi.
Karena bagaimana mungkin kita berbicara tentang mencetak generasi unggul jika lingkungan belajarnya sendiri penuh ketakutan?
Hari Pendidikan Nasional harus menjadi titik balik. Ini bukan lagi saatnya seremonial dan slogan kosong. Ini saatnya pembenahan nyata.
“Negara tidak boleh kalah oleh budaya diam. Dunia pendidikan harus berdiri di garis depan dalam melindungi anak-anak kita.
Jika tidak, maka kita sedang membiarkan satu generasi tumbuh bervirus dalam luka.”
Dengan semangat perubahan, MAKI Jatim menyerukan kepada seluruh pihak untuk kembali pada esensi pendidikan: membangun manusia yang berilmu, berkarakter, dan bermartabat.
Bergerak bersama, hentikan bullying, bersihkan pendidikan, dan wujudkan Indonesia yang benar-benar beradap peduli akan bangsanya
Maski









