HalSel Global Investigasi News — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Putri Sahara, yang akrab disapa Bunga, angkat bicara terkait peran masyarakat modern dalam membentuk standar baru kehidupan sosial melalui renegosiasi ruang interaksi sosial di era digital, (11/5/2026).
Putri Sahara merupakan mahasiswi semester dua jurusan Psikologi di Universitas Muhammadiyah Ternate. Ia berasal dari Desa Babang, Kecamatan Bacan Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Bunga adalah putri dari pasangan ON Lajima dan Nurwanti Andikumaha.
Dalam keterangannya, Bunga menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar terhadap pola interaksi masyarakat modern. Menurutnya, perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi cara manusia berkomunikasi, tetapi juga membentuk standar sosial baru yang kini diterima secara luas oleh masyarakat.
“Anthony Giddens menyebut fenomena ini sebagai disembedding, yaitu ketika interaksi sosial tidak lagi terikat oleh lokasi fisik tertentu. Saat masyarakat menerima sistem remote working atau pembelajaran daring secara kolektif, sebenarnya mereka sedang merombak struktur sosial yang telah bertahan selama berabad-abad,” ujar Bunga.
Ia menilai bahwa masyarakat modern saat ini hidup dalam ruang sosial yang semakin cair. Kehadiran internet dan media sosial telah menghapus banyak batas tradisional dalam hubungan sosial, sehingga manusia dapat berinteraksi tanpa harus berada di tempat yang sama.
Bunga juga menyoroti fenomena social policing atau pengawasan sosial yang berkembang pesat di era digital. Menurutnya, media sosial telah menjadi panggung terbuka bagi setiap individu untuk menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan sosial.
“Di era digital ini, masyarakat modern memiliki peran yang sangat menonjol dalam fenomena social policing. Media sosial memberikan ruang bagi siapa saja untuk menjadi kritikus sosial Ketika masyarakat menilai adanya penyimpangan seperti rasisme, eksploitasi, maupun keserakahan korporasi, mereka dapat langsung menyuarakan kritik secara terbuka,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa perubahan sosial saat ini tidak lagi sepenuhnya bergerak dari atas ke bawah (top-down), melainkan tumbuh secara organik dari bawah (bottom-up). Dalam kondisi tersebut, masyarakat modern berperan layaknya hakim kolektif yang menentukan nilai-nilai mana yang masih relevan dan mana yang harus ditinggalkan.
Menurut Bunga, masyarakat kini memiliki pengaruh besar dalam membentuk standar baru, termasuk dalam pola konsumsi dan gaya hidup. Ia mengutip pandangan filsuf Jean Baudrillard yang menyatakan bahwa manusia modern tidak lagi mengonsumsi fungsi suatu barang, melainkan simbol yang melekat pada barang tersebut.
“Jean Baudrillard mengatakan bahwa manusia saat ini tidak lagi mengonsumsi fungsi barang, tetapi simbolnya. Hari ini masyarakat membangun definisi tentang hidup layak atau sukses melalui narasi yang mereka tampilkan di ruang digital,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa standar sosial yang terbentuk melalui media digital cenderung bersifat sementara dan cepat berubah. Apa yang dianggap populer hari ini bisa saja tergantikan oleh tren baru dalam waktu singkat.
Selain itu, Bunga juga menyinggung mengenai solidaritas sosial di media digital yang menurutnya sering kali muncul secara spontan, namun rapuh. Dukungan terhadap isu tertentu dapat berkembang sangat cepat melalui tagar atau kampanye media sosial, tetapi juga mudah hilang ketika perhatian publik beralih ke isu lain.
“Solidaritas yang terbentuk di media sosial sering kali bersifat spontan, tetapi rapuh. Dukungan melalui tagar dapat dengan mudah tergantikan oleh tren berikutnya. Karena itu, masyarakat modern tidak boleh hanya menjadi pengikut tren, tetapi juga harus memiliki kesadaran kritis terhadap isu yang sedang diperjuangkan,” ungkapnya.
“Solidaritas yang terbentuk di media sosial sering kali bersifat spontan, tetapi rapuh. Dukungan melalui tagar dapat dengan mudah tergantikan oleh tren berikutnya. Karena itu, masyarakat modern tidak boleh hanya menjadi pengikut tren, tetapi juga harus memiliki kesadaran kritis terhadap isu yang sedang diperjuangkan,” ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, Putri Sahara menegaskan bahwa masyarakat modern memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga arah kemajuan sosial di era digital. Menurutnya, standar kehidupan yang dibentuk melalui teknologi harus tetap memperhatikan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
Ia mengingatkan bahwa perkembangan digital yang tidak merata dapat menciptakan jurang sosial baru bagi kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap teknologi dan informasi.
“Peran krusial masyarakat saat ini adalah memastikan bahwa kemajuan digital tidak menciptakan kesenjangan baru. Sebab, standar kehidupan yang dibentuk secara digital bisa menjadi tantangan besar bagi mereka yang tidak memiliki akses teknologi,” tutup Putri Sahara yang akrab disapa Bunga.
(LM.Tahapary)










