SINGKIL – Bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Singkil sejak tiga hari terakhir tidak hanya merendam permukiman dan jalan, tetapi juga memutus akses vital masyarakat di Desa Kuta Simboling, Kecamatan Singkil.
Dua unit jembatan penyeberangan berbahan kayu di desa tersebut rubuh akibat derasnya debit air yang diperparah oleh tumpukan eceng gondok di alur sungai.
Keruntuhan ini bukan sekadar hilangnya sarana transportasi, melainkan terputusnya denyut nadi kehidupan sosial dan keagamaan warga setempat.
Kondisi geografis Desa Kuta Simboling yang terbelah oleh aliran sungai menjadikan jembatan sebagai satu-satunya penghubung dalam-kampung.
Tanpa jembatan, aktivitas harian warga lumpuh total. Lebih dari itu, jembatan ini memiliki makna sakral karena menjadi jalur utama menuju masjid tempat mayoritas penduduk menunaikan ibadah salat berjamaah.
Putusnya akses ini secara langsung berdampak pada kekhusyukan dan keteraturan ibadah komunitas, mengubah fungsi jembatan dari sekadar infrastruktur fisik menjadi kebutuhan spiritual yang tak tergantikan.
Kepala Desa Kuta Simboling, Junaidi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi tersebut melalui pesan tertulis kepada media, Minggu (4/10/2026).
Ia menjelaskan bahwa keruntuhan jembatan disebabkan kombinasi faktor alam dan lingkungan; dorongan air yang meningkat drastis akibat penyumbatan eceng gondok membuat tiang penyangga kayu tidak lagi mampu menahan beban.
“Memang kondisi jembatan kami sudah dikunjungi pihak BPBD, PUPR dan Camat Singkil.
Camat, BPBD, dan Dinas PUPR telah meninjau langsung ke lokasi untuk melihat keadaan jembatan tersebut,” ujar Junaidi.
Meski respons cepat dari instansi terkait telah ditunjukkan, warga Kuta Simboling mendesak agar tinjauan lapangan segera diterjemahkan menjadi aksi pembangunan yang nyata.
Panjang kedua unit jembatan yang runtuh hanya sekitar 27 meter, namun dampaknya terhadap kehidupan ratusan jiwa sangat masif.
Junaidi memohon kepada Bupati Aceh Singkil H. Safriadi Oyon, S.H., untuk memerintahkan dinas teknis agar segera merealisasikan pembangunan kembali jembatan tersebut.
“Warga kami sangat berharap agar Pemda Aceh Singkil dapat segera membangun jembatan ini.
Ini bukan hanya soal akses jalan, tapi soal kelangsungan ibadah dan persatuan warga desa yang terpisah sungai,” pintanya.
Desakan warga Kuta Simboling mengingatkan bahwa dalam penanganan pascabencana, prioritas rehabilitasi harus didasarkan pada analisis dampak multidimensi.
Jembatan sepanjang 27 meter mungkin terlihat sederhana dalam kalkulasi teknik sipil, namun bagi masyarakat Kuta Simboling, ia adalah lifeline yang menghubungkan dunia profan dan sakral.
Percepatan pembangunannya bukan hanya urusan rekayasa struktur, melainkan wujud keberpihakan pemerintah terhadap hak dasar warganya untuk beribadah dan hidup layak tanpa sekat bencana.(*)
(Tim Redaksi)







