SIMALUNGUN – SUMUT Global investigasi news com — Musyawarah Daerah (Musda) XII Al Jam’iyatul Washliyah Kabupaten Simalungun Tahun 2026 yang digelar di Gedung MUI Simalungun, Sabtu (2/5/2026), berlangsung khidmat namun berujung pada situasi deadlock dalam proses penentuan ketua baru.
Musda yang mengusung tema “Mengukuhkan Konsolidasi, Meningkatkan Kepedulian, dan Merawat Integritas Kader Al Washliyah” ini dihadiri berbagai tokoh penting, di antaranya Dedi Iskandar Batubara, Gusmiyadi, Sugiarto, serta Ki Drajat Purba. Hadir pula Bupati Simalungun Anton Achmad Saragih bersama unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, dan ulama.
Dalam sambutannya, Bupati Anton Achmad Saragih menegaskan bahwa Al Washliyah merupakan mitra strategis pemerintah dalam pembangunan karakter dan penguatan nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat. Ia juga mengapresiasi kontribusi organisasi tersebut dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.
“Al Washliyah telah menjadi pilar penting dalam membangun generasi yang berilmu dan berakhlak. Pemerintah tentu tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan organisasi seperti ini,” ujarnya.
Namun, dinamika organisasi justru mengemuka pada tahap krusial pemilihan Ketua Pengurus Daerah. Dari empat kandidat yang maju, yakni Ade Rijal Lubis, Dr. Dedi Lazuardi, Syarifudin Purba, dan Junaidi Sitorus, forum tidak mencapai kesepakatan.
Sesuai mekanisme AD/ART, pemilihan dilakukan melalui rapat pleno dengan membentuk tim formatur berjumlah lima orang. Namun dalam proses penentuan ketua, terjadi kebuntuan (deadlock) di antara formatur.
Ketua formatur,H. Chairuk Anwar, S.Ag dalam keterangannya menyampaikan bahwa pihaknya membutuhkan waktu tambahan untuk menyelesaikan proses tersebut.
“Kami belum mencapai titik temu dalam penentuan Ketua PD Al Washliyah Simalungun. Oleh karena itu, formatur meminta waktu paling lama 10 x 24 jam sejak hari ini untuk menetapkan keputusan,” jelasnya.
Sebelumnya, Ketua Panitia, Sairul Amri Saragih, melaporkan bahwa Musda diikuti sekitar 250 kader dari berbagai unsur pengurus daerah, mencerminkan soliditas organisasi.
Menanggapi situasi deadlock tersebut, Narahubung Rumah Aspirasi Dr. Hinca Ikara Putra Pandjaitan XIII, S.H., M.H., ACCS. wilayah Simalungun, Indra Saputra Damanik, menilai dinamika yang terjadi merupakan bagian dari proses demokrasi yang harus dihormati. Ia berharap seluruh pihak dapat mengedepankan semangat musyawarah dan kebesaran hati demi menjaga persatuan organisasi. “Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam sebuah forum besar seperti Musda. Yang terpenting adalah bagaimana seluruh kader tetap mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi, sehingga keputusan yang dihasilkan nantinya benar-benar membawa kebaikan bagi Al Washliyah ke depan,” ujarnya.
Meski terjadi deadlock, Musda ini tetap menjadi momentum penting dalam konsolidasi internal organisasi. Perpanjangan waktu yang diberikan diharapkan mampu menghasilkan keputusan terbaik yang dapat diterima seluruh pihak, sekaligus menjaga persatuan dan integritas kader Al Washliyah di Kabupaten Simalungun.
Situasi ini menjadi ujian kedewasaan organisasi dalam berdemokrasi, sekaligus penegasan bahwa proses musyawarah tetap menjadi jalan utama dalam menentukan arah kepemimpinan ke depan
Turut hadir memberikan dukungan antara lain Ketua PW Al Washliyah Sumatera Utara, Dedi Iskandar Batubara, Anggota DPRD Sumatera Utara Gusmiyadi, Ketua DPRD Simalungun Sugiarto, serta Ketua MUI Kabupaten Simalungun, Ki Drajat Purba. Kehadiran para tokoh ini semakin memperkuat posisi Al Washliyah sebagai organisasi yang dihormati dan dipercaya dalam memajukan kehidupan umat dan bangsa (AN)
Penulis : Aswan Nasution









