Opini Agustus 2026
Demonstrasi sudah dimulai. Dibendung atau tidak, itu urusan nanti.
Yang jauh lebih penting untuk kita renungkan adalah: apa sebenarnya makna demonstrasi?
Demonstrasi bukan semata-mata kerumunan massa. Bukan sekadar teriakan, spanduk, ataupun aksi turun ke jalan. Demonstrasi adalah salah satu bentuk penyampaian pendapat dan aspirasi masyarakat ketika ada sesuatu yang dianggap belum didengar, belum dijawab, atau belum mendapatkan penyelesaian.
Lalu pertanyaannya, setelah berbulan-bulan adik-adik mahasiswa menyampaikan aspirasinya, ke mana para pejabat yang seharusnya mendengar?
Mengapa suara mahasiswa justru terus berhadapan dengan barisan TNI dan Polri?
TNI dan Polri tentu memiliki tugas dan tanggung jawab menjaga keamanan serta ketertiban. Namun, jangan sampai setiap suara kritis masyarakat selalu diterjemahkan sebagai persoalan keamanan semata.
Sebab ada persoalan yang lebih mendasar: ketika rakyat menyampaikan aspirasi, siapa yang seharusnya menemui mereka?
Bukankah pejabat negara adalah mereka yang diberikan amanah untuk mendengar, menjawab dan menyelesaikan persoalan masyarakat?
Mahasiswa bukan musuh negara.
Mereka adalah bagian dari masyarakat yang sedang menggunakan haknya untuk menyampaikan kegelisahan, kritik dan tuntutan. Jika aspirasi mereka dianggap keliru, maka jawab dengan argumentasi. Jika tuntutannya belum dapat dipenuhi, jelaskan alasannya. Jika ada persoalan yang memang benar, maka tindak lanjuti.
Jangan sampai yang terlihat di depan mata justru mahasiswa berhadapan dengan aparat, sementara pejabat yang menjadi tujuan aspirasi tidak terlihat di tengah mereka.
Kita tentu berharap demonstrasi berjalan damai. Mahasiswa menyampaikan aspirasi dengan tertib, aparat menjalankan tugas secara profesional dan proporsional, sementara pemerintah membuka ruang dialog yang sehat.
Karena demokrasi bukan hanya tentang hak untuk berbicara.
Demokrasi juga tentang kesediaan untuk mendengar.
Dan kepada adik-adik mahasiswa, tetaplah kritis. Tetaplah berani menyampaikan kebenaran. Tetapi jangan kehilangan akal sehat, jangan mudah terprovokasi, dan jangan menjadikan kekerasan sebagai jalan perjuangan.
Sementara kepada para pejabat, mungkin sudah waktunya bertanya kepada diri sendiri:
Jika suara mahasiswa sudah berbulan-bulan terdengar, mengapa mereka masih harus turun ke jalan?
Sebab terkadang, demonstrasi yang panjang bukan karena mahasiswa terlalu keras berbicara.
Bisa jadi karena pemerintah terlalu lama memilih untuk diam Kabiro Gi.news Madina (OM).















