Trenggalek – Kabupaten Trenggalek kembali menorehkan langkah besar di panggung internasional. Melalui dukungan Anggota DPR RI Komisi VII Fraksi PDI Perjuangan, Novita Hardini, kesenian khas Mataraman seperti Turonggo Yakso serta ragam budaya Ponorogo dipastikan akan tampil dalam ajang pariwisata dunia yang digelar di Korea Selatan pada September hingga Oktober 2026.
Event internasional tersebut akan mempertemukan peserta dari lebih dari 200 negara, menjadikannya salah satu forum promosi budaya dan pariwisata terbesar di dunia. Dalam kesempatan istimewa itu, Trenggalek dipercaya menjadi bagian dari delegasi budaya Indonesia dan akan menampilkan pertunjukan sebagai tarian pembuka yang memperkenalkan kekayaan seni tradisi Nusantara kepada masyarakat global.
Novita Hardini mengatakan, keikutsertaan Trenggalek dalam ajang tersebut merupakan hasil dari hubungan bilateral yang terus berkembang antara Indonesia dan Korea Selatan, sekaligus buah dari upaya memperluas promosi budaya daerah ke tingkat internasional.
“Ini adalah kesempatan emas bagi Trenggalek dan kawasan Mataraman untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Turonggo Yakso bukan hanya seni pertunjukan, tetapi identitas, sejarah, dan kebanggaan masyarakat yang harus kita perkenalkan secara lebih luas,” ujar Novita Hardini, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, momentum tersebut tidak hanya menjadi ajang diplomasi budaya, tetapi juga membuka peluang besar bagi pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.
Kehadiran Trenggalek di forum internasional diharapkan mampu menarik perhatian wisatawan mancanegara sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai destinasi budaya unggulan di Indonesia.
Sebagai anggota Komisi VII DPR RI yang membidangi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, Novita menilai promosi budaya harus dilakukan secara agresif dan berkelanjutan agar mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.
“Budaya tidak boleh hanya menjadi tontonan. Budaya harus menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menggerakkan pariwisata, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu kami terus mendorong agar potensi-potensi daerah seperti Trenggalek mendapatkan ruang tampil di level dunia,” tegasnya.
Ia menambahkan, selain Turonggo Yakso, berbagai elemen budaya khas kawasan Mataraman juga akan diperkenalkan sebagai representasi keberagaman budaya Jawa Timur yang kaya akan nilai sejarah, filosofi, dan kreativitas masyarakatnya.
Partisipasi Trenggalek dalam agenda internasional tersebut diharapkan menjadi momentum penting untuk memperluas jejaring kerja sama global, memperkuat diplomasi budaya Indonesia, sekaligus mengangkat nama Trenggalek sebagai daerah yang memiliki kekayaan seni dan tradisi yang mampu bersaing di panggung dunia.
“Ini bukan hanya tentang Trenggalek, tetapi tentang bagaimana budaya Indonesia berdiri sejajar dengan budaya bangsa-bangsa lain di dunia. Kita ingin dunia mengenal Indonesia melalui karya, tradisi, dan kearifan lokal yang kita miliki,” pungkas Novita Hardini.











