KABUPATEN BANDUNG – Agenda Reses Masa Sidang II Tahun 2026 yang digelar Anggota DPRD Kabupaten Bandung Fraksi Demokrat Dapil 5, Raindra M. Oto Muharam, di GOR Desa Padamulya, Kecamatan Majalaya, Selasa (24/2/2026), menjadi potret nyata wajah pembangunan di wilayah timur Kabupaten Bandung.
Ratusan warga memadati lokasi reses. Mereka datang bukan sekadar memenuhi undangan formal, melainkan membawa keresahan yang telah lama dirasakan: jalan rusak yang tak kunjung tuntas dan persoalan sampah yang kian mengkhawatirkan.
“Reses ini bukan formalitas. Ini ruang mendengar suara riil masyarakat. Semua masukan akan kami kawal dan perjuangkan,” tegas Raindra di hadapan warga.
Jalan Rusak, Ekonomi Ikut Tersendat
Persoalan infrastruktur menjadi keluhan paling dominan. Warga menyampaikan kondisi jalan lingkungan yang berlubang dan rusak parah, terutama saat musim hujan.
Genangan air mempercepat kerusakan, sementara aktivitas masyarakat tetap harus berjalan.
Bagi warga Majalaya, jalan rusak bukan sekadar persoalan kenyamanan. Dampaknya langsung terasa pada:
Mobilitas harian masyarakat
Distribusi barang dan jasa
Biaya operasional pedagang dan pelaku UMKM
Keselamatan pengguna jalan
Sebagai kawasan padat penduduk dan salah satu simpul aktivitas ekonomi di Kabupaten Bandung, Majalaya membutuhkan infrastruktur yang dirancang jangka panjang.
Warga berharap perbaikan tidak lagi bersifat tambal sulam, tetapi dilakukan menyeluruh dengan perencanaan matang dan kualitas konstruksi yang lebih baik.
Tak hanya itu, fasilitas olahraga desa juga menjadi sorotan.
Generasi muda dinilai memerlukan ruang aktivitas yang layak agar energi mereka tersalurkan ke arah positif.
Sampah Menumpuk, Risiko Mengintai
Selain infrastruktur, isu lingkungan turut mencuat. Volume sampah rumah tangga yang terus meningkat dinilai belum diimbangi dengan sistem pengelolaan yang efektif dan terintegrasi.
Beberapa titik penumpukan sampah dikhawatirkan berpotensi:
Menimbulkan gangguan kesehatan
Mencemari lingkungan sekitar
Mengganggu estetika kawasan
Memicu ketegangan sosial
Warga mengusulkan penguatan bank sampah, edukasi pemilahan sejak dari rumah, serta penambahan armada pengangkut.
Mereka berharap pengelolaan sampah tidak lagi bersifat reaktif, tetapi berbasis sistem yang terencana dan berkelanjutan.
Persoalan ini bukan hanya tantangan Majalaya, melainkan cerminan problem tata kelola lingkungan di banyak daerah.
Tanpa inovasi kebijakan dan kolaborasi lintas sektor, persoalan sampah berpotensi menjadi beban jangka panjang.
Aspirasi Dikawal, Tindak Lanjut Ditunggu
Selain dua isu utama tersebut, warga juga menyampaikan aspirasi terkait penguatan UMKM, dukungan kegiatan sosial-keagamaan, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik.
Menanggapi hal itu, Raindra menegaskan komitmennya untuk membawa seluruh aspirasi dalam pembahasan program dan anggaran daerah bersama pemerintah kabupaten.
“Kolaborasi legislatif dan eksekutif harus solid. Aspirasi ini amanah yang wajib diperjuangkan secara bertahap dan nyata,” ujarnya.
Reses di Majalaya memperlihatkan meningkatnya partisipasi publik dalam mengawal pembangunan.
Forum seperti ini tidak lagi sekadar agenda seremonial, tetapi menjadi ruang kontrol sosial yang penting bagi arah kebijakan daerah.
Kini publik menanti, bukan sekadar janji, melainkan langkah konkret. Sebab, kualitas jalan dan kebersihan lingkungan hari ini akan menentukan wajah Majalaya di masa depan.Tutup.Raindra.”









