GIN JATIM BANYUWANGI – Di kaki kawasan Songgon, Banyuwangi, berdiri sebuah pusat pergerakan dan pendidikan yang kental dengan nilai spiritualitas serta sejarah. Yayasan Bumi Suroyo, sebuah lembaga berbadan hukum yang didirikan sejak tahun 2018, kini menjadi sorotan sebagai wadah strategis dalam mencetak kader bangsa yang sadar akan jati diri Nusantara.
Dalam kunjungan tim media KPK Sigap, pendiri sekaligus pemilik Yayasan Bumi Suroyo, Ki Ageng Bumi Suroyo, memaparkan visi besar di balik pendirian yayasan tersebut. Menurutnya, Bumi Suroyo bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan pusat pendidikan yang mencakup empat pilar utama: budaya, agama, pendidikan umum, dan sosial.
Wadah Kolaborasi Organisasi dan Pendidikan
Sejak awal berdiri, Bumi Suroyo telah menjadi rumah bagi berbagai elemen masyarakat. Ki Ageng menjelaskan bahwa fasilitas yang ada, seperti pendopo budaya, sering dipinjam pakai oleh berbagai lembaga untuk kegiatan edukasi.
“Alhamdulillah, sejak 2018 tempat ini sering digunakan untuk kegiatan pramuka, pelatihan organisasi seperti IPNU, IPPNU, Ansor, Pagar Nusa, hingga PMI. Kami memang menyediakan sarana ini untuk kepentingan umat dan pendidikan,” ujar Ki Ageng.
Selain sebagai pusat pendidikan, lokasi ini juga menjadi markas penting bagi kepengurusan Perjuangan Wali Songo Indonesia (PWI) dan Laskar Sabilillah tingkat Kabupaten Banyuwangi yang dilantik langsung oleh K.H. Abbas Bili dari Cirebon pada tahun 2022 lalu.
Meluruskan Sejarah dan Menjaga Marwah Nusantara
Salah satu misi krusial yang diusung Ki Ageng melalui Yayasan Bumi Suroyo adalah pelurusan sejarah Nusantara. Beliau menyoroti maraknya upaya pembelokan sejarah oleh kelompok-kelompok tertentu, termasuk klaim sepihak mengenai silsilah keturunan yang tidak terbukti kebenarannya.
“Harapan saya, generasi masa depan sadar akan sejarah asli negeri ini. Para pejuang dahulu berkorban darah dan nyawa demi kemerdekaan. Kami berjuang meluruskan nilai-nilai sejarah bangsa dan agama agar anak cucu kita paham dan bangga mempertahankan budaya asli Nusantara,” tegas sosok yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat Genta Macan Putih Blambangan ini.
Bumi Suroyo: Saksi Bisu Perang Puputan Bayu
Pemilihan nama “Bumi Suroyo” ternyata memiliki akar sejarah yang sangat dalam. Berdasarkan penelusuran sejarah dan temuan artefak saat pembangunan, lokasi yayasan ini dulunya merupakan tempat konsolidasi para pejuang Blambangan dalam menghadapi kolonial Belanda pada medio 1700-an.
Ki Ageng mengungkapkan bahwa tempat tersebut menjadi saksi bisu strategi perang Puputan Bayu yang dipimpin oleh tokoh-tokoh legendaris seperti Pangeran Rempak Jokopati.
“Dulu tempat ini adalah dapur umum dan pusat pengaturan strategi perang. Kami menemukan banyak artefak berupa senjata tajam, keris, hingga tombak saat awal pembangunan. Nilai sejarahnya sangat besar, konon biaya perang di wilayah ini setara dengan 80 ton emas pada masa itu,” jelasnya.
Harapan untuk Pemerintah
Mengakhiri wawancara, Ki Ageng berharap pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat, lebih peduli terhadap pelestarian situs-situs budaya dan sejarah seperti Bumi Suroyo. Ia berkomitmen untuk terus bergerak secara mandiri guna membekali generasi mendatang dengan pengetahuan sejarah yang akurat.
“Semoga Allah memberkati langkah ini agar Bumi Suroyo terus bermanfaat bagi masyarakat, rakyat, dan bangsa,” pungkasnya Zaka Tim









