SINGKIL – 08 April 2026
Globalinvestigasinews
Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Aceh Singkil menggelar pertemuan dengan para insan pers guna menjaring masukan demi kemajuan daerah.
Namun, pertemuan yang berlangsung pada Rabu (8/4/2026) tersebut justru diwarnai sorotan tajam terkait isu pengkotak-kotakan media oleh Pemerintah Daerah (Pemda).
Ketua DPD Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI) Aceh Singkil, Yudi Sagala, menilai praktik tebang pilih terhadap media masih terjadi secara terang-terangan. Menurutnya, distribusi dana hibah jurnalistik terkesan hanya dinikmati oleh “pemain lama” atau media tertentu saja.
“Kami melihat keadilan dan keberpihakan Pemkab untuk memberdayakan elemen jurnalistik masih jauh dari harapan.
Seolah ada pengkotak-kotakan; media tertentu tetap menjadi langganan penerima hibah sementara media kecil terabaikan,” ujar Yudi pada sesi tanya jawab berlangsung.
Yudi mengungkapkan bahwa beberapa media online dan radio lokal tercatat menerima dana hibah dengan nilai berkisar Rp20 hingga Rp25 juta per tahun.
Ia mendesak pemerintah untuk menerapkan sistem yang lebih adil dan bergilir agar kesejahteraan ekonomi tidak hanya berputar di kelompok tertentu.
Senada dengan itu, wartawan senior Aceh Singkil, Razaliardi Manik, mengaku miris dengan minimnya alokasi anggaran untuk pers saat ini.
Ia membandingkan anggaran masa lalu yang pernah menyentuh angka Rp1 miliar, sementara kini hanya dialokasikan sekitar Rp200 juta untuk lebih dari 50 wartawan.
“Dari APBK yang mencapai Rp800 miliar, hanya tersedia Rp200 juta untuk rekan-rekan wartawan.
Bagaimana kita bicara kesejahteraan dengan dana sekecil itu?” cetus Razaliardi.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga meminta Diskominfo untuk segera memfasilitasi pertemuan silaturahmi antara seluruh awak media dengan Bupati Aceh Singkil, Safriadi Oyon, guna membangun komunikasi yang lebih konstruktif ke depannya.(*)
Ginews : Aceh Singkil









