KABUPATEN BANDUNG – Transformasi ekonomi digital kini tak lagi menjadi wacana elitis di ruang-ruang konferensi. Di tingkat akar rumput, perubahan itu mulai digerakkan dari komunitas kecil dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan.

Hal tersebut tergambar dalam agenda reses hari ketiga Anggota DPRD Kabupaten Bandung dari Fraksi Demokrat, Venny Noveny, yang digelar di RW 15 Parawis Al Barokah, Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang, Selasa (23/02/2026).
Di tengah suasana dialog yang hangat bersama kelompok ibu-ibu Ema Istisyaro, pembahasan berkembang melampaui isu rutin seperti infrastruktur dan bantuan sosial. Fokus utama mengerucut pada satu tantangan besar: bagaimana UMKM perempuan mampu bertahan sekaligus naik kelas di tengah arus digitalisasi ekonomi nasional.
“Teknologi bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dimanfaatkan. Dengan digitalisasi, produk lokal bisa menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Venny optimistis.
UMKM Perempuan dan Tantangan Daya Saing.
Para pelaku usaha rumahan menyampaikan kebutuhan konkret, mulai dari pelatihan pengemasan produk, penguatan merek, hingga strategi pemasaran berbasis media sosial.
Selama ini, produk olahan makanan dan kerajinan mereka masih dipasarkan secara terbatas di lingkungan sekitar.
Menurut Venny, persoalan utama UMKM saat ini bukan lagi sekadar kapasitas produksi, melainkan kemampuan membangun identitas produk dan menembus pasar digital.
Di era marketplace dan promosi berbasis konten, kemasan, branding, serta konsistensi kualitas menjadi penentu daya saing.
Ia menegaskan bahwa UMKM perempuan harus diposisikan sebagai bagian dari strategi besar penguatan ekonomi daerah.
Ketika pelaku usaha kecil mampu terkoneksi dengan pasar digital, maka dampaknya tidak hanya pada peningkatan pendapatan keluarga, tetapi juga pada pertumbuhan ekonomi lokal.
Kolaborasi Kampus dan Komunitas.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Venny mendorong kolaborasi dengan perguruan tinggi, termasuk Telkom University, dalam bentuk pendampingan digital marketing, desain kemasan, hingga strategi branding berbasis riset.
“Kampus memiliki inovasi dan riset, masyarakat memiliki kreativitas dan produk unggulan. Ketika keduanya berjalan bersama, hasilnya bisa dirasakan luas,” tuturnya.
Sinergi ini dinilai penting agar UMKM tidak berjalan sendiri menghadapi perubahan
teknologi yang cepat. Pendampingan yang berkelanjutan dapat menjadi jembatan antara potensi lokal dan kebutuhan pasar modern.
“Dari Komunitas Menuju Pasar Nasional
Pertemuan di RW 15 juga menegaskan peran strategis perempuan dalam menjaga ketahanan ekonomi keluarga. Dari dapur rumah hingga ruang komunitas, kreativitas terus tumbuh menjadi sumber penghasilan tambahan.
Kini, semangat untuk belajar dan beradaptasi dengan dunia digital semakin menguat. Bagi para ibu pelaku UMKM, pemasaran digital bukan lagi sesuatu yang jauh, melainkan peluang nyata untuk menembus pasar nasional.
Venny pun mengajak generasi muda agar tidak tertinggal dalam persaingan modern. Penguasaan teknologi, pemahaman pasar, serta kemampuan membangun jaringan menjadi bekal utama menghadapi ekonomi berbasis digital.
Reses di RW 15 Parawis Al Barokah menjadi gambaran bahwa transformasi ekonomi dapat dimulai dari ruang-ruang sederhana yang penuh kebersamaan.
Dari Bojongsari, optimisme itu tumbuh: UMKM perempuan bukan hanya bertahan, tetapi siap naik kelas dan berkontribusi dalam peta ekonomi digital Indonesia.









