KABUPATEN BANDUNG – Isu lingkungan dan ketahanan pangan kembali menjadi sorotan dalam agenda Reses Masa Sidang II Tahun 2026 yang digelar anggota DPRD Kabupaten Bandung Fraksi Demokrat, Venny Noveny, S.S.,di Desa Cipagalo, Kecamatan Bojongsoang, Senin (23/02/2026).
Tak sekadar menyerap aspirasi, reses hari kedua ini menghadirkan pesan yang lebih luas:
pembangunan berbasis lingkungan dan penguatan pangan harus dimulai dari desa.
“Desa sebagai Titik Awal Perubahan.’
Di hadapan warga, Venny menegaskan bahwa Desa Cipagalo memiliki makna historis dalam perjalanan politiknya. Dari wilayah inilah, ia meraih dukungan signifikan pada Pemilu 2024 di Daerah Pemilihan (Dapil) III, termasuk kontribusi suara terbanyak dari RW 11.
“Desa Cipagalo adalah bagian dari sejarah perjuangan saya. Amanah ini akan saya jaga dan perjuangkan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut bukan sekadar nostalgia politik, tetapi komitmen untuk mengembalikan kepercayaan publik melalui kerja nyata.
“Normalisasi Drainase, Cegah Risiko Bencana.
Sebagai anggota Komisi B yang membidangi lingkungan hidup dan ketahanan pangan, Venny menyoroti persoalan krusial di RW 11:
penyempitan solokan akibat erosi tanah yang berpotensi memicu banjir dan longsor.
Normalisasi saluran air sepanjang kurang lebih 300 meter telah terealisasi. Tak berhenti di situ, pada 2026 direncanakan perbaikan lebih dari 3.000 titik drainase dengan ukuran kedalaman sekitar 80 sentimeter dan lebar 60 sentimeter.
Langkah ini dinilai strategis, mengingat persoalan drainase menjadi isu klasik di banyak daerah Indonesia yang berdampak langsung pada keselamatan dan kualitas hidup warga.
“Lingkungan yang tertata baik akan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
“Sinkronisasi dengan Program Nasional.
Dalam konteks yang lebih luas, Venny juga menyatakan dukungan terhadap program ketahanan pangan pemerintah pusat di. bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Ia menegaskan bahwa DPRD melalui Komisi B siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan kelompok tani untuk memperkuat produksi dan kemandirian pangan, khususnya di tingkat desa.
“Apapun program prioritas pemerintah pusat, kami siap mendorong dan berkolaborasi.
Ketahanan pangan adalah isu strategis nasional,” katanya.
Aspirasi Lokal, Dampak Nasional
Reses di Cipagalo menunjukkan bahwa pembangunan nasional sejatinya bertumpu pada kekuatan lokal.
Normalisasi drainase, penguatan kelompok tani, hingga sinergi pusat-daerah menjadi gambaran bagaimana kebijakan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dari Desa Cipagalo, pesan itu mengalir jelas: menjaga lingkungan dan memperkuat ketahanan pangan bukan hanya agenda daerah, melainkan kepentingan nasional yang dimulai dari akar rumput.









