Ternate Global Investigasi News- Proses pemeriksaan terhadap dua pelaku dugaan penganiayaan atau pengeroyokan yang menimpa seorang siswa SMAN 1 Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, terkesan mati suri. Hingga saat ini, alur informasi terkait perkembangan kasus tersebut mengalami kebuntuan, sementara pihak penyidik dinilai tidak kooperatif saat dikonfirmasi oleh wartawan.
Kasus pengeroyokan ini melibatkan empat orang pelaku, di mana tiga di antaranya berasal dari Kelurahan Toboko dan satu orang lainnya dari Kelurahan Kelapa Pende, Kota Ternate. Peristiwa kekerasan tersebut terjadi di Lorong Bimoli, Toboko, beberapa waktu lalu, dan dilakukan secara brutal terhadap korban yang masih berstatus pelajar.
Sebelumnya, dua orang pelaku telah menjalani pemeriksaan oleh pihak kepolisian. Sementara itu, dua pelaku lainnya dijadwalkan untuk
diperiksa pada hari ini. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada kejelasan apakah pemeriksaan tersebut benar-benar dilaksanakan atau kembali mengalami penundaan.
Akibat pengeroyokan tersebut, korban mengalami luka serius, khususnya pada bagian belakang kepala. Hingga kini, korban masih merasakan sakit dan harus menjalani perawatan jalan secara rutin. Kondisi ini tentu menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi keluarga korban, mengingat dampak fisik maupun psikologis yang dialami.
Dua pelaku yang dijadwalkan menjalani pemeriksaan hari ini diketahui berinisial Raisa dan Ical. Namun, upaya wartawan untuk memperoleh konfirmasi dari penyidik yang menangani kasus ini tidak membuahkan hasil. Penyidik terkesan menghindar dan tidak memberikan respons, bahkan tidak mengangkat telepon yang dilakukan oleh wartawan.
Ironisnya, salah satu pihak yang berupaya menghubungi penyidik tersebut adalah orang tua korban sendiri. Sikap tidak responsif ini memicu kekecewaan mendalam dari keluarga korban yang merasa tidak mendapatkan kejelasan maupun transparansi dalam penanganan kasus.
Keluarga korban pun mengambil langkah tegas dengan menyiapkan tim kuasa hukum untuk mengawal jalannya proses hukum. Mereka berkomitmen untuk terus memperjuangkan keadilan hingga para pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.
Selain itu, pihak keluarga bersama pengacara juga berencana untuk terus berkoordinasi dengan penyidik guna memastikan bahwa proses hukum berjalan sesuai prosedur. Mereka mendesak agar para pelaku segera ditahan, mengingat kasus ini dinilai sebagai tindakan penganiayaan dan pengeroyokan yang jelas serta tidak dapat ditoleransi.
Keluarga berharap aparat penegak hukum dapat bertindak profesional, transparan, dan tidak tebang pilih dalam menangani perkara ini. Mereka juga meminta agar pihak kepolisian lebih terbuka dalam memberikan informasi kepada publik, terutama kepada keluarga korban yang sangat membutuhkan kepastian hukum.
Kasus ini menjadi sorotan karena menyangkut keselamatan pelajar serta penegakan hukum terhadap tindakan kekerasan di masyarakat. Hingga saat ini, publik masih menunggu perkembangan lanjutan dari proses pemeriksaan serta langkah tegas dari aparat kepolisian terhadap para pelaku.
Tim/ Red.









