PULANG PISAU – GLOBAL INVESTIGASINEWS, 21 September 2026, Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Pulang Pisau mengalami perubahan pola penanganan seiring perubahan status dari siaga darurat menjadi tanggap darurat.
Perubahan tersebut turut berdampak pada pola penyediaan logistik bagi personel yang bertugas di lapangan. Kondisi persebaran titik api yang dinilai semakin menyebar dan berjauhan membuat pola penyediaan logistik secara terpusat dinilai kurang efektif.
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos PMD) Kabupaten Pulang Pisau, Yanoadi Setiawan, S.STP., M.AP., menjelaskan bahwa pola penanganan logistik kini disesuaikan dengan kondisi personel dan titik penanganan di lapangan.
“Pola penanganan dan persebaran titik api yang menyebar dan berjauhan sehingga tidak memungkinkan penyediaan logistik secara terpusat,” demikian penjelasan Yanoadi.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pola distribusi logistik yang sebelumnya terpusat diubah menjadi pola satelit atau mandiri. Langkah ini dilakukan untuk menyesuaikan posisi tim pemadam yang dinamis dan terus bergerak mengikuti kondisi di lapangan.
“Dari pola terpusat menjadi satelit/mandiri untuk mengatasi posisi tim pemadam yang dinamis dan terus bergerak di lapangan,” jelasnya.
Pola tersebut pada dasarnya diarahkan agar kebutuhan makan dan minum bagi personel yang berada di lokasi penanganan dapat lebih menyesuaikan dengan pergerakan tim.
Meski demikian, Dinas Sosial PMD Kabupaten Pulang Pisau menyatakan tetap siap memberikan dukungan logistik apabila sewaktu-waktu diperlukan.
“Jika diperlukan, DU siap membantu menyiapkan logistik, makan dan minum, kembali secara terpusat bagi personel yang bertugas,” kata Yanoadi.
Perubahan pola distribusi logistik tersebut menjadi bagian dari penyesuaian penanganan karhutla terhadap kondisi faktual di lapangan. Dengan titik api yang berada di lokasi berbeda dan jarak yang berjauhan, distribusi secara satelit atau mandiri diharapkan dapat mengikuti kebutuhan masing-masing tim.
Perubahan status dari siaga menjadi tanggap darurat juga membuat koordinasi antarpihak menjadi semakin penting, terutama dalam memastikan personel di lapangan tetap mendapatkan dukungan logistik selama menjalankan tugas pemadaman dan penanganan karhutla.(Romi)















